"Kok Aku Merasa Seperti Pembantu Ya?"

Updated: Aug 4

Seringkali pertanyaan itu muncul di dalam hati para Au Pair yang baru saja menginjakkan kaki di negara pilihan mereka untuk menjadi Au Pair. Rasanya, kok saya disuruh membereskan kamar orang lain, melipat baju orang lain, membersihkan dapur, bahkan membersihkan toilet.

Disini, saya ingin berbagi pengalaman Au Pair saya di Swedia tahun 2016-2017 dengan Host Family kedua saya, dengan perasaan seperti itu dan bagaimana untuk menyikapi hal tersebut.


Author : Meliana Tesa

-Host Family kedua saya, keluarga Bernsten-


Lho, pindah family?

Nah begini, kan saya bekerja dengan HostFam pertama saya sebelumnya selama 7 bulan. Namun dikarenakan Host Dad saya baru meresmikan usaha baru yang dia kelola, beliau akan mulai bekerja di rumah dengan laptopnya, jadi tidak perlu ke kantor lagi. Maka dari itu, beliau jadi memiliki waktu luang untuk menjemput anak-anak dan mengurus mereka.

Suatu hari, HostMom bilang ke saya kalau saya mau tidak di "Transfer" ke teman baik mereka, keluarga Bernsten yang terdiri dari 2 anak berumur 2 dan 4 tahun. Mereka ini orang Swedia dan telah tinggal di Dubai selama 10 tahun dan anak-anaknya pun lahir dan besar di Dubai. Mereka baru saja kembali ke Swedia dan mencari Au Pair. Saya bilang "ya" karena saya juga tidak mau pulang ke Indonesia dahulu atau susah-susah mencari HostFam baru.


Household Task Host Family pertama

HostFam pertama dan kedua saya jelas memiliki jadwal dan susunan tugas Au Pair dengan berbeda. Dengan HostFam pertama, tugas saya adalah menyiapkan breakfast untuk anak-anak, membantu mereka bersiap-siap ke sekolah, mengantar jemput anak-anak dengan mobil, memasak Dinner untuk saya dan sekeluarga dari Senin-Jumat, bermain dengan anak-anak tentunya, menjemur, melipat baju sekeluarga, dan menyetrika 3-4 helai baju HostMom.


Untuk tugas bersih-bersih, saya hanya perlu mem-vacuum lantai jika memang terlihat kotor. Rumah HostFam ini terbilang kecil, namun kebun yang mereka punya lumayan besar. Cleaning Lady pun datang setiap hari Kamis untuk deep cleaning seluruh bagian rumah. Saat saya berkerja dengan keluarga ini, menurut saya sangat santai sih dengan total waktu kerja saya yang tidak lebih dari 25 jam per minggu.


Household Task Host Family kedua

Nah, dengan HostFam kedua, mereka awalnya juga masih agak bingung dengan konsep Au Pair, karena di Dubai mereka tidak punya Au Pair, melainkan Nanny dan Cleaning Lady. Tapi HostFam saya yang pertama dengan sabar menjelaskan mereka dengan konsep Au Pair sebelum saya bergabung dengan keluarga mereka.


Tugas saya di HostFam kedua ini adalah, membantu anak-anak bersiap-siap pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, menjemput anak-anak dari sekolah dengan bus, memandikan anak-anak, serta memasak makan malam hanya untuk anak-anak saja, dan juga bermain dengan mereka hingga orang tua mereka kembali ke rumah (sekitar jam 6 sore).


Jadi, setiap pagi memang santai untuk saya, karena HostMom saya yang mengantar mereka ke sekolah sekalian beliau berangkat kerja. Untuk household chores, tugas saya adalah menjemur dan melipat baju sekeluarga, termasuk menyetrika beberapa helai baju kerja Host Mom saja, serta bersih-bersih di seluruh bagian rumah.


Bersih-bersih di seluruh bagian rumah? Bukannya itu terlalu banyak?

Ya, jadi awalnya saat saya dan HostFam saya berdiskusi mengenai susunan jadwal dan tugas saya yang belum termasuk pekerjaan rumah tangga.

Jika ditotalkan, jam kerja saya per minggu itu memang tidak sampai 25 jam. Jadi anggap saja saat pagi hari saya hanya butuh 20 menit-an untuk membantu anak-anak untuk bersiap pergi ke sekolah. Lalu setelah itu saya free sampai jam 4 sore, menjemput, memasak, dan bermain dengan anak-anak sampai jam 6 sore. Totalnya kira-kira hanya 2 jam 20 menit bekerja per harinya, ingat, belum termasuk pekerjaan rumah tangga ya.


Nah, lalu untuk pekerjaan rumah tangga, mereka memang menanyakan, bagaimana enaknya untuk menyusun waktunya? Karena memang mereka masih mempunyai "Hak" untuk meminta saya membantu mereka selama 2 jam 40 menit lagi per hari nya. FYI, jadi saya kerja dari Senin-Jumat, 5 jam per hari maksimalnya. Untuk aturan Swedia, 25 jam adalah jam kerja maksimal per minggu untuk Au Pair.


Mereka memang bilang bahwa saya tidak perlu kerja sampai 5 jam per hari. Kurang dari itu tidak apa-apa. Hanya saja mereka ingin saya untuk membantu dengan cucian baju sekitar 2x per minggu dan merapikan sofa atau mengelap meja makan setelah dinner. Untuk household chores, mereka bertanya apakah saya OK dengan memvacuum lantai 3-4x per minggu? Saya pikir dalam hati, waduh, 3-4 kali per minggu?!


Kebetulan memvacuum lantai memang bukan pekerjaan favorit saya. Jadi saya bertanya, "Bagaimana jika saya bersih-bersih rumah 1x per minggu saja, tapi saya akan membersihkan seluruh bagian rumah secara detail, dan saya juga tidak keberatan untuk menvacuum lantai kapanpun saat lantai memang sudah benar-benar kotor?"

Lalu merekapun mengiyakan. Saya pikir juga keluarga ini sudah sangat generous dan baik, saya pun jadi tidak keberatan untuk bebersih seluruh bagian rumah, yang saya kira tidak akan seberat kenyataanya saat dikerjakan :p


Jadi yang saya lakukan saat bersih-bersih seluruh bagian rumah itu yang mungkin sekitar 3-4 kali lebih besar dari rumah HostFam pertama saya adalah :


1. Memvacuum dan mengepel lantai di seluruh kamar, kamar mandi, ruang keluarga, dapur.

2. Mengelap debu dan bercak air di kamar mandi (wastafel, meja, bathtub, sauna, dll)

3. Membersihkan toilet dan menyikat kloset.


Nah, membersihkan toilet dan menyikat kloset ini yang sebenarnya membuat saya pernah berpikir, kok saya seperti pembantu ya, sampai saya harus membersihkan kloset orang lain?

Mungkin saya terdengar berlebihan, namun sejujurnya memang saya tidak pernah melakukan hal itu. Dan ternyata melakukan hal itu bersamaan dengan deep-cleaning yang memakan 2-3 jam jika dikerjakan non-stop, juga mempengaruhi mood saya. Ibaratnya, saya sudah capek memvacuum, mengelap, dan mengepel lantai, eh penutupnya membersihkan toilet orang lain. Rasanya bete sekali.


Tapi saya sadar, bahwa pertama, itu tugas saya, saya yang bernegosiasi seperti itu, saya yang ingin tugas saya seperti itu. Jadi saya tidak boleh mengeluh. Memang terkadang saya berpikir, "Kok miris banget ya, saya punya gelar S1 dari Universitas ternama, tapi saya bekerja seperti ini, menyikat kloset orang lain."

Lalu cara saya untuk menyikapi perasaan tersebut adalah dengan berpikir logis dan menempatkan diri saya ke posisi Host Family saya :


1. Mereka adalah orang tua yang super sibuk. Mereka membutuhkan Au Pair untuk membantu mereka melakukan hal-hal yang membutuhkan waktu luang yang mereka tidak punya termasuk melakukan pekerjaan rumah tangga.


2. Mereka sudah mempunyai anak dan tidak membutuhkan "anak" lain yang manja dan hanya ingin tinggal di rumah mereka gratis, makan gratis, dapat uang saku, dan kerjanya santai-santai saja alias jadi princess.


3. Mereka mengeluarkan uang banyak juga untuk memiliki Au Pair. Akomodasi dan biaya hidup di Eropa khususnya Swedia sangatlah tinggi. Jadi, saya sudah mendapatkan itu semua secara cuma-cuma. Mereka pun memberikan pocket money yang lebih tinggi dari standar, asuransi gratis, kursus bahasa gratis, kartu transportasi gratis untuk saya, terkadang saya pun boleh memakai mobil mereka dengan bensin yang dibayarkan mereka juga. Selain itu, saya diberikan libur saat tanggal merah, dan 2 hari tambahan per bulan yang bisa saya kumpulkan untuk travelling.


4. Jam kerja saya tidak lebih dari 25 jam per minggu. Malahan kurang banyak dari 25 jam per minggu sebenarnya. Jadi, saya tidak perlu banyak mengeluh.


Setelah saya berpikir seperti itu, saya pun sadar bahwa saya harusnya sangat bersyukur dengan semua yang mereka berikan, bersyukur dengan cara mereka memperlakukan saya seperti bagian dari keluarga mereka, dan tidak mengeluh hanya karena saya harus bersih-bersih seluruh bagian rumah dan menyikat kloset sekali seminggu. Toh, jika saya mencari HostFam lain belum tentu mereka lebih baik atau pekerjaannya lebih ringan.


Oh ya, di Eropa itu semua orang terbiasa melakukan hal-hal tersebut dari semenjak mereka kuliah dan nge-kos sendiri. Tidak ada yang namanya pekerjaan yang status nya rendah. Semua orang sama. Itu yang saya suka dari menjadi Au Pair di Swedia. Tidak ada yang membeda-bedakan status orang lain berdasarkan ras, suku, bangsa, pekerjaan, agama, dll.


Sekian dulu.. :)

For Au Pair

For Host Family

More

Work with Us

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon

©2019 by Bali Au Pair Indonesia. All right reserved.